Festival Film Riri Riza di Eropa
Berkah film Laskar Pelangi ternyata tak habis-habis menghujani sutradara Riri Riza. Setelah sukses secara komersial, film ini memenangi beberapa penghargaan di festival film internasional.
Laskar Pelangi juga memikat hati Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Praha, Republik Ceko. Rencananya, KBRI di Ceko ini akan membuat festival film khusus untuk Riri Riza yang bertajuk Indonesian Film Festival 2009: Focus on Riri Riza.
Tak hanya di Praha, festival film ini juga akan mampir ke Hamburg (Jerman), Wina (Austria), Ljubljana (Slovenia), dan Beograd (Serbia). Selain Laskar Pelangi, Indonesian Film Festival (IFF) 2009 juga akan menayangkan lima film Riri lainnya yaitu Petualangan Sherina, Eliana, Eliana, Untuk Rena, Gie, dan 3 Hari Untuk Selamanya. Rencananya, IFF berlangsung tanggal 19 Mei-10 Juni 2009.
Duta Besar RI untuk Republik Ceko Salim Said, dalam keterangan di rilisnya mengatakan, IFF diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya Riri Riza yang meraih prestasi di berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
"KBRI Praha ingin mengenalkan masyarakat dan budaya Indonesia kepada rakyat Ceko. Di sisi lain, juga ingin menunjukkan kalau film Indonesia mampu bersaing dan setaraf dengan film dari negara lain," ujar mantan pengamat militer dan kritikus film ini.
Riri mengaku tak sempat berpikir panjang saat Salim Said menawarkan kesempatan untuk menayangkan enam filmnya di beberapa negara Eropa.
"Saya sangat bangga karena yang menawarkan adalah Bapak Salim Said yang buat saya adalah seorang jagoan film Indonesia. Bukunya pun sudah berkali-kali saya baca sampai habis," ujar Riri penuh semangat, dalam konferensi pers IFF 2009 di Joseph Wibowo Center, Binus University, beberapa waktu lalu.
Sutradara kelahiran Makassar, 38 tahun yang lalu ini memang pantas berbangga hati. Sebabnya selama dua tahun penyelenggaraan, baru kali ini IFF mengkhususkan diri untuk memutar film-film dari satu sutradara saja. Tahun pertama penyelenggaraan yaitu tahun 2007, IFF mengambil tema film klasik Indonesia. Tahun berikutnya, mengambil fokus pada film-film kontemporer Indonesia.
Sementara tahun ini, sesuai tema IFF 2009, "Retrospeksi Film RiriRiza", enam film yang dipilih tak hanya berkualitas dan menghibur, juga film-film yang menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia. Contoh saja Gie dan Laskar Pelangi yang kental unsur sejarah dan kondisi sosial dan budaya yang ada di Indonesia dalam kurun waktu tertentu.
"Saya memang selalu berusaha membuat film-film yang dekat dan menggambarkan tentang kondisi Indonesia. Makanya, film saya selalu dirilis terlebih dahulu di Indonesia, bukan di festival internasional," kata Riri.
Meski IFF 2009 diadakan KBRI dan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), para panitia memastikan bahwa film-film yang diputar tidak hanya akan ditonton orang Indonesia, juga oleh para pengamat film dan masyarakat di kota tempat penyelenggaraan yang tertarik dengan film Indonesia.
"Di Hamburg, IFF akan diputar di Kino Abaton yaitu bioskop yang khusus menayangkan film-film non-Hollywood yang berkualitas. Jadi tempatnya cocok sekali dan pasti akan sesuai dengan sasaran kita. KJRI juga sudah menyebar brosur dan memasang poster di sana sebagai bentuk promosi," sebut Koordinator Fungsi Sosial Budaya Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hamburg Yayat Sugiatna. (okezone)










0 Komentar:
Posting Komentar