Pameran dan Seminar Internasional Berbicara tentang "Akar Demokrasi Indonesia"
FES (Friedrich Ebert Stiftung) bekerjasama dengan Tempo Institute, AJI (Aliansi Jurnalistik Indonesia) dan Jurusan Ilmu Administrasi Negara (FISIP) serta Jurusan Ilnu Sejarah (FIB) Universitas Hasanuddin mengadakan acara pameran dan rangkaian seminar dengan tema “Berbicara tentang Akar Demokrasi Indonesia”. Acara ini berlangsung selama empat hari berturut-turut dari tanggal 30 Agustus - 2 September 2010 yang dibuka secara resmi oleh Bapak Prof. Dr. Idrus Paturusi, Rektor Universitas Hassanuddin, selain itu terdapat pula Ketua Jurusan Sejara FIB UNHAS, Wakil dari Tempo Institute, Wakil dari AJI, Direktur FES, dan Drs. Ilham Arief Sirajuddin, Walikota Makassar.
FES (Friedrich Ebert Stiftung) itu sendiri adalah sebuah yayasan organisasi politik yang didirikan oleh presiden pertama Jerman hasil demokratis yaitu Bapak Friedrich Ebert. Sejak dulu FES berfokus pada usaha untuk menyampaikan nilai-nilai demokrasi baik di dalam kegiatan pendidikan FES di Jerman maupun didalam kerjasama internasionalnya.
Tujuan FES (Friedrich Ebert Stiftung) mengadakan acara ini karena ketika pada masa rezim orde baru, masyarakat sangat kesulitan untuk mencari informasi mengenai tiga tokoh pemikir dasar bentuk negeri ini yaitu Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Karena di masa orde baru, apabila terdapat pemikiran-pemikiran atau ide-ide yang berbeda dengan rezim ode baru pasti orang tersebut akan memendam pemikiran atau ide itu agar tidak diketahui oleh masyarakat lain. Dan target utama acara ini adalah kaum muda atau mahasiswa yang memiliki pemikiran atau gagasan yang perlu untuk dituangkan sehingga FES mengadakan pameran dan seminar ini sebagai wadah kaum muda atau mahasiswa untuk mendapatkan informasi. Selain tiu, kaitan antara Partai Sosdem Jerman (Sozialdemokratische Partei Deutschland/SPD) dengan tiga tokoh pemikir dasar bentuk negeri ini yaitu Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka karena FES ingin mengetahui alasan tidak adanya partai yang ideology dan programnya jelas di Indonesia. Melihat Partai di Indonesia hanya membuat program untuk dapat menambah jumlah suara pada saat pemilihan, berbeda dengan SPD yang sudah berumur ratusan tahun yang memiliki program yang sangat jelas sehingga masyarakat mendapat manfaat dan partai tersebut bertahan lama.
Dengan tema berbicara tentang “Akar Demokrasi Indoensia” membuat Makassar menjadi rekor dengan jumlah 1900-an lebih hampir mencapai angka 2000 pengunjung, dibandingkan dengan sebelumnya mengadakan acara dibeberapa tempat yaitu Bandung dan Jakarta. Penyebab utama masyarakat atau mahasiswa di Makassar sangat antusias untuk mengikti rangkaian acara ini tentu karena sudah lama tidak ada kegiatan seperti ini yang menjadi ruang untuk diskusi dari pikiran-pikiran mereka. Selain itu, karena topik-topik yang sangat menarik yaitu mengenai Mandat Konstitusi untuk Ekonomi Kerakyatan, Mendengar Gagasan Anak Bangsa, Anarkisme atau Vandalisme?, Akar Demokrasi Indonesia di Timur “Seabad Lebih Awal”, Melindungi Negara dari Ancaman Neo-Liberal, Gerakan Politik Altrenatif, Kesejahteraan dan Keadilan Sosial untuk Seluruh Rakyat, dan Politik Ala Gue. Tentu saja dengan pembicara yang setiap topik dua diantaranya merupakan pembicara tingkat nasional dan selebihnya merupakan akademis dari UNHAS.
Diakhir acara juga terdapat cultural night dengan bintang tamu dari KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan), Sinrilik (Musik Tradisional Makassar disertai dengan budaya tutur tentang tiga tokoh), serta Tere dan Thinkerbelle yang sebelumnya Tere sempat menjadi pembicara pada topik Politik Ala Gue yang merupakan anggota DPR-RI Komisi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian, dan Kebudayaan.
FES (Friedrich Ebert Stiftung) itu sendiri adalah sebuah yayasan organisasi politik yang didirikan oleh presiden pertama Jerman hasil demokratis yaitu Bapak Friedrich Ebert. Sejak dulu FES berfokus pada usaha untuk menyampaikan nilai-nilai demokrasi baik di dalam kegiatan pendidikan FES di Jerman maupun didalam kerjasama internasionalnya.
Tujuan FES (Friedrich Ebert Stiftung) mengadakan acara ini karena ketika pada masa rezim orde baru, masyarakat sangat kesulitan untuk mencari informasi mengenai tiga tokoh pemikir dasar bentuk negeri ini yaitu Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Karena di masa orde baru, apabila terdapat pemikiran-pemikiran atau ide-ide yang berbeda dengan rezim ode baru pasti orang tersebut akan memendam pemikiran atau ide itu agar tidak diketahui oleh masyarakat lain. Dan target utama acara ini adalah kaum muda atau mahasiswa yang memiliki pemikiran atau gagasan yang perlu untuk dituangkan sehingga FES mengadakan pameran dan seminar ini sebagai wadah kaum muda atau mahasiswa untuk mendapatkan informasi. Selain tiu, kaitan antara Partai Sosdem Jerman (Sozialdemokratische Partei Deutschland/SPD) dengan tiga tokoh pemikir dasar bentuk negeri ini yaitu Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka karena FES ingin mengetahui alasan tidak adanya partai yang ideology dan programnya jelas di Indonesia. Melihat Partai di Indonesia hanya membuat program untuk dapat menambah jumlah suara pada saat pemilihan, berbeda dengan SPD yang sudah berumur ratusan tahun yang memiliki program yang sangat jelas sehingga masyarakat mendapat manfaat dan partai tersebut bertahan lama.
Dengan tema berbicara tentang “Akar Demokrasi Indoensia” membuat Makassar menjadi rekor dengan jumlah 1900-an lebih hampir mencapai angka 2000 pengunjung, dibandingkan dengan sebelumnya mengadakan acara dibeberapa tempat yaitu Bandung dan Jakarta. Penyebab utama masyarakat atau mahasiswa di Makassar sangat antusias untuk mengikti rangkaian acara ini tentu karena sudah lama tidak ada kegiatan seperti ini yang menjadi ruang untuk diskusi dari pikiran-pikiran mereka. Selain itu, karena topik-topik yang sangat menarik yaitu mengenai Mandat Konstitusi untuk Ekonomi Kerakyatan, Mendengar Gagasan Anak Bangsa, Anarkisme atau Vandalisme?, Akar Demokrasi Indonesia di Timur “Seabad Lebih Awal”, Melindungi Negara dari Ancaman Neo-Liberal, Gerakan Politik Altrenatif, Kesejahteraan dan Keadilan Sosial untuk Seluruh Rakyat, dan Politik Ala Gue. Tentu saja dengan pembicara yang setiap topik dua diantaranya merupakan pembicara tingkat nasional dan selebihnya merupakan akademis dari UNHAS.
Diakhir acara juga terdapat cultural night dengan bintang tamu dari KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan), Sinrilik (Musik Tradisional Makassar disertai dengan budaya tutur tentang tiga tokoh), serta Tere dan Thinkerbelle yang sebelumnya Tere sempat menjadi pembicara pada topik Politik Ala Gue yang merupakan anggota DPR-RI Komisi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian, dan Kebudayaan.










0 Komentar:
Posting Komentar